1. Katarak Kongenital
Katarak untuk jenis satu ini, biasanya dialami oleh bayi atau balita dan anak-anak atau ada yang dari bawaan lahir karena kesalahan oleh ibunya ketika mengandung. Katarak jenis ini dapat ditangani dengan melakukan operasi atau pembedahan dengan cara Disisio atau ekstraksi linear dan ekstrasi dengan fakoemulasifikasi untuk mencegah ambnliopia eksnopsia. Setelah melakukan operasi ini seseorang akan membutuhkan koreksi untuk kelainan refraksi mata yang menjadi afakia.
1. Katarak Traumatik
Untuk menjelaskan jenis katarak yang satu ini, anda diharapkan mengenal bagaimana bentuk katarak Traumatik, diantaranya :
a. Bentuk pupil pada lensa yang diakibatkan dari trauma tumpul yang berbentuk vossious ring yakni lingkaran yang membentuk granula cokelat kemerah-merahan yang berasal dari pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih 1 mm. Secara normal ia menjadi padat sesudah trauma.
b. Pada katarak jenis ini katarak akan membentuk seperti roset, setelah beberapa minggu kejadian trauma. Trauma yang tumpul dapat mengakibatkan perubahan terhadap susunan serat-serat lensa dan susunan sistem suture yakni tempat pertemuan serat lensa sehingga terjadi pembentukan roset, roset sendiri ada yang bersifat sementara dan ada yang bersifat tetap.
c. Katarak traumata desiminata subepitel (ditemukan oleh Vogt) membentuk akibat keruhan yang bercak-bercak dan letaknya di bawah lapisan epitel lensa di bagian depan. Kekeruhan ini terkadang ada yang bersifat tetap dan tidak progresif.
d. Katarak Zonular dan lamelar. Pada katarak jenis ini lebih banyak ditemukan pada mereka yang usia muda yang sesudah trauma. Hal ini dikarenakan adanya perubahan pada meabilitas kapsul lensa yang mengakibatkan degenerasi lapisan kortek supersial. Trauma tumpul dapat disebabkan karena memar atau terbentur benda keras yang mengenai mata yang kemudian menjadi afakia.
Katarak akibat trauma tembus dapat dalam bentuk :
Laserisasi yaitu robekan pada kapsul lensa. Bila kapsul robek dan isi lensa bercampur dengan cairan aqueous dapat timbul katarak total.
2. Katarak Sekunder
a. Gejala Subyektif : Dapat menyebabkan kemunduran tajam akan penglihatan
b. Gejala Obyektif : Akan terlihat menebal pada bagian kapsul anterior, kapsula posterior, masa lensa, cincin soemmering dan elschnig pearl. Cincin soemmering terjadi akibat kapsul anterior yang pecah dan bergerak ke arah pinggir dan melekat pada kapsul posterior meninggalkan daerah yang jernih di tengah, membentuk gambaran cincin. Pada pinggir cincin ini tertimbun serabut lensa dan epitel yang berproliferasi. Elschnig pearl adalah epitel subkapsuler yang berproliferasi dan membesar sehingga tampak sebagai busa sabun. Elschnig pearl ini mungkin akan menghilangkan dalam beberapa tahun oleh karena pecah dindingnya.
c. Afakia merupakan keadaan dimana lensa telah dikeluarkan dan akan timbul gejala mata yang tidak memiliki lensa lagi atau afakia, seperti Iris tremulan atau iris bergoyang, Bilik mata dalam, Hipermetropia tinggi dan biasanya sampai +10,00 sampai dengan +12,00 Dioptri. Untuk membaca dekat diperlukan tambahan lensa +3,00 Dioptri.
d. Lensa Intra Okuler adalah pada saat bedah katarak dilakukan penanaman lensa intraokular untuk afakia yang terjadi. Koreksi untuk mata afakia dapat memberikan beberapa keuntungan dan kerugian.
e. Retinopati adalah suatu kelainan pada retina yang bukan merupakan peradangan. Retinopati dapat disebabkan diabetes melitus, hipertensi dan leukemia, arteriosklerosis dan proses degenerasi lainnya.
3. Katarak Senil
- Uji Anel Positif, dimana tidak terjadi obstruksi fungsi ekskresi saluran lakrimal sehingga tidak ada dakriosistitis.
- Tidak ada infeksi di sekitar mata seperti keraitis, konjungtivitis, blefaritis, hordeolum dan kalazion
- Tekanan bola mata normal dan tidak ada glaukoma
- Tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolik 100mmHg.
- Gula darah telah terkontrol.
- Tidak batuk terutama pada saat pembedahan.
- Dibuat flep konjungtiva dari jam 9-3 melalui jam 12.
- Dilakukan pungsi bilik mata depan dengan pisau.
- Luka kornea diperlebar seluas 160 derajat.
- Dibuat indektomi untuk mencegah glaukoma blokade pupil pasca bedah.
- Dibuat jahitan korneosklera
- Lensa dikeluarkan dengan krio.
- Jahitan kornea dieratkan dan ditambah.
- Flep konjungtiva dijahit
- Kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama-sama kapsulnya. Pada keadaan ini terjadi ekstraksi lensa ekstrakapsular tanpa rencana karena kapsul posterior akan tertinggal.
- Prolaps badan kaca pada saat lensa dikeluarkan.
- Teknik yang masih baik untuk mengeluarkan lensa keruh yang mengganggu penglihatan.
- Teknik dengan ongkos rendah.
- Flep konjungtiva antara dasar dengan fornik pada limbus dibuat dari jam 10 sampai jam 2.
- Dibuat pungsi bilik mata depan.
- Melalui pungsi ini dimasukkan jarum untuk kapsulotomi anterior.
- Dibuat luka kornea dari jam 10-2.
- Nukleus lensa dikeluarkan.
- Sisa korteks lensa dilakukan irigasi sehingga tinggal kapsul poserior saja.
- Luka kornea dijahit.
- Flep konjungtiva dijahit.
a. Proses pada nukleus oleh karena serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu selalu terdorong ke arah tengah maka serabut-serabut lensa bagian tengah akan menjadi lebih padat (nukleus), mengalami dehidrasi, penimbunan ion calcium (Ca) dan sklerosis. Pada nukleus ini kemudian terjadi penimbunan pigmen. Pada keadaan ini lensa kurang hipermetrop.
b. Proses pada korteks Timbul celah-celah di antara serabut lensa, yang berisi air dan penimbunan ion Ca sehingga lensa menjdi lebih tebal, lebih cembung dan membengkak menjadi lebih miop.
c. Katarak Insipien adalah katarak berupa bercak-bercak seperti baji dengan dasar di perifer dan daerah jernih diantaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior atau posterior. Kekeruhan ini mula-mulanya tampak bila pupil dilebarkan sedangkan pada stadium lanjut puncak baji dapat tampak pada pupil normal. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa.
d. Katarak Imatur adalah kekeruhan yang belum mengenai seluruh lapisan lensa, sehingga masih ditemukan bagian-bagian yang jernih. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pencembungan lensa ini akan menyebabkan bilik depan mata akan menjadi lebih dangkal dan dapat memberikan penyulit glaukoma. Hal ini disebut katarak intumesen.
e. Katarak Imatur adalah kekeruhan yang telah mengenai seluruh masa lensa. Kekeruhan ini biasanya terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh.
f. Katarak Hipermatur adalah katarak yang terjadi akibat korteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus “tenggelam” kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik.
=====================================

>>> Bilberry Eyebright Plus Membantu Pengobatan Katarak Mata, Mencegah dan Membantu Mengatasi Penyakit Mata Katarak, Klik Detail Disini!
=====================================


terima kasih untuk infony7a…